Pembelajaran Tematik Integratif

Pembelajaran tematik integratif dapat juga disebut dengan pembelajaran tematik terintegrasi, hal ini merupakan penjabaran dari pembelajaran terintegrasi, bahkan ada yang menyebutnya dengan pendekatan kurikulum terintegrasi atau pendekatan kurikulum terintegrasi (Abdul Khadir, 2015: 5). Dengan demikian pembelajaran tematik integratif dapat diartikan sebagai model pembelajaran terintegrasi yang menggunakan tema sebagai pusat untuk mengembangkan materi dari berbagai mata pelajaran dalam pertemuan. Kombinasi pembelajaran tersebut dapat dilihat dari aspek kurikulum, proses belajar mengajar dan alokasi waktu yang digunakan. Dikutip dari buku tematik pilihan ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pemerintah dalam menerapkan kurikulum 2013 telah memberikan juklak yang digunakan untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran tematik integratif yaitu penerbitan buku untuk guru dan buku untuk siswa. Buku guru dimaksudkan sebagai bahan rujukan bagi guru untuk menyelesaikan RPP di kelas, sedangkan buku siswa berfungsi sebagai pedoman kegiatan pembelajaran untuk memfasilitasi siswa memperoleh keterampilan tertentu.

Dalam penelitian yang dilakukan peneliti terhadap buku guru SD / MI tema no. 1 (satu) orang menemukan bahwa mata pelajaran umum terintegrasi dengan nilai-nilai agama, tetapi hanya mata pelajaran umum yang terintegrasi seperti PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA dan sebagainya. Penulis menemukan bahwa materi Pendidikan Agama Islam disediakan dalam buku terpisah untuk guru dan siswa, dipadukan dengan materi karakter.

Mengutip konsep Integration Inteconnection yang pertama kali diciptakan oleh Amin Abdulah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), ia menyatakan bahwa dalam upaya memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dialami manusia, setiap bangunan keilmuan adalah religius (Islam atau lainnya). agama), ilmu sosial, kemanusiaan dan pengalaman tidak bisa berdiri sendiri tanpa kerjasama, saling menyapa, saling membutuhkan, saling mengoreksi dan saling terkait antar disiplin ilmu (Abdullah, 2010: vii-viii). Misalnya model pendekatan terpadu antara ilmu agama dan ilmu umum, kajian keislaman dan keilmuan dan sebagainya.

Pemisahan ilmu agama dari ilmu umum menyebabkan ilmu agama mengucilkan dirinya dan memberi kesan bahwa agama hanya berkaitan dengan ketuhanan dan akhirat, tetapi tidak ada hubungannya dengan kehidupan di dunia. Mempelajari pendidikan agama Islam tidak hanya normatif tetapi juga ilmiah. Proses keilmuan Pendidikan Agama Islam akan menjadikan Pendidikan Agama Islam sebagai bagian dari kehidupan nyata yang dibutuhkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, jelas dengan pendekatan pembelajaran yang terintegrasi.

Pembelajaran integratif akan menjadikan pendidikan agama Islam sebagai “spirit” mata pelajaran umum lainnya yang nantinya akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, ketika seorang guru merencanakan dan kemudian melaksanakan pembelajaran tematik integratif terkait subtema lingkungan seperti yang sering atau lazim dialami siswa, maka guru harus menjelaskan tentang pentingnya kebersihan lingkungan menurut ajaran Islam.

Semoga sedikit artikel diatas dapat memberikan sedikit referensi bagi kalian yang saat ini sedang belajar tematik.

eddye

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *